Dalam masa Rembulan
matahari enggan memancar
dalam keemasan air
sungai enggan mengalir
kami duduk merenggut lutut
pada hati yang bukan luka
pada rasa yang kasat mata
ada banyak mata pada wajah rembulan
dalam masa kesunyian kami
seorang penjaga membersihkan lantai
menghaluskan kisut walaupun wajahnya kusut
kemudian hanya larut
seorang guru hendak terayu
oleh buaian Rahmat sang Pengasih
menulis makna kepada orang yang bimbang
kami yang sunyi enggan menyanyi, enggan menari
seorang penjaga ilmu menanggap dunia
tentang kita yang diancam mati
“jangan….” ucapku menghela
hela yang dikatakan: yakin akan mati oleh iri dan diri
kami takut itu adzab walaupun kami tak tahu arti adzab itu apa, TAPI JANGAN
bukanya itu adzab
ketika yakin mati oleh iri dan diri
apakah itu kebaikan seperti yang dikatakan oleh seorang Atheis
dan saya BUKAN Atheis
walaupun kami berhadapan dengan mati
yang tak pernah melihat tapi mendekat.