-anak nelangsa yang harap mayat-

raut waktu mencongkel ketika menara putih  menjadi basah
menunggunya dari pihak yang datang
menunggunya dari arah yang berlawanan

padahal anak nelangsa sudah ceria dengan bisa makan
bahkan baru bisa membuat harapan hari ini untuk tidur di depan halaman hangat
walau mereka tak bisa menari atau tak mampu menyanyi
sedang diatas perut mereka terdengar orkes melayu yang merayu

jauh darinya
jauh dari citanya
belangsak
nelangsa

dari yakin kami mendengar mereka ingin mengatakan
tentang kehidupan mereka kepada ayahnya
lalu ayahnya pun ingin cerita kepada arwahnya yang kini hanya tinggal bayang
tapi bayang – melayang lalu mencari sarang
sarang kini sudah musnah menjadi sunyi dan kesengsaraan

kasian – ia hanya datang dengan perut kenyang derita
meluruh mengharap pada penjilat dari neraka
bukan kutukan- tapi semua buta dari dirinya

tak peduli harga minyak menjadi darah
tapi tak perlu menjadi pelacur karena ia hanya santapan pagi hari
dari seorang rahib sok suci
rahib yang menggunakan nama meraka lalu dididihkanya diatas perapian kakinya

tak peduli akan gadis yang minta dikawin
yang mengharap dapat hidup hanya dengan sendok usang dan perapian yang basah

tak perlu katakan mayat sudah musnah menjadi harta
yang katanya bisa makan kalau ia dijual dengan harga curang
karena tak ada harapan untuk anak nelangsa bisa makan walaupun mayat musnah sudah banyak diatas bumi
padahal anak nelangsa tahu terlalu banyak yang terhina sepertinya
dan tak dikasih makan walau para durjana sudah menggayang diatas perutnya

karena mayat
menjadi harta
tapi anak nelangsa tak bisa makan

“benua mana yang kita bisa makan di dalamnya?” anak nelangsa pada para bangsawan
yang mereka jadikan berita tentang mayat musnah yang dijual dengan harga mahal
“kapan kita bisa makan kalau harta itu kami yang punya tapi terasa miskin karena kami tak punya uang?”
“sampai kapan menara itu tegak, padahal ia sudah lama menangis ingin beri kami makan?”
“sampai kapan hujan dermawan ini masih basah sebelumnya terasa kering karena kalian curi?”
“sampai kapan kami berkata puja sedangkan kami rasakan sengsara?”

sampai kami disaksikan matinya olehmu !
sampai kami sadar engkau sadar kami mati !
lalu kami musnah dan jadi harta !

tapi pasti tak berikan arti untuk para anak nelangsa seperti kami nanti.

mei 2008 (ketika BBM naik dan para nelangsa terasa mati)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: