-dari sebuah perenung-

sepanjang hembusan sang anak alam
merenungi hati para jiwa kebingungan
saat pagi hari-saat masanya kabut

kami hanya bisa menunggu pagi
saat malam penuhi janji
dan bahagiakan aku saat semuanya pergi

bintang tersenyum
menatap aku sang anak alam
menghirup hawa malam yang dingin
bulan menatap
akupun merayap, untuk raih sinar indahnya
kini aku hanya renungi lingkaran
ketika aku berdiri diatas kesucian embun yang setia menetes

diriku hanya sunyi
yang pandangi alam
yang rasakan kedamaian
yang hormati warisan
sang gunung yang berdiri tegap
sang awan yang menari-nari
sang burung yang bersajak lewat mimpi
dan permadani sawah yang hiasi lewat sunyi

tapi kini negeri sudah hampir mati
bahkan ceritakan wasiat untuk kami
yang belum mampu bahagiakanĀ  sang pertiwi
yang sekarang sudah reot karena kecewa

kami tak mau melihat mereka mati
ketika kami tak mampu hidupi jiwa
yang akhirnya mati dilahap sunyi
pergi
hilang
dari seribu mimpi

note:
untuk adik (sarah deffiza) yang minta dibuatkan puisi
untuk tugas bahasa indonesianya (he…he…he…)
puisi ini didedikasikan untuk indonesia yang semakin kehilangan harisma
mei 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: